Friday, October 28, 2011

////

Merenung Sampai Mati


Ketika membeli buku, aku akan tertarik dengan judul atau dengan penulisnya, yang tulisannya sudah biasa aku baca. Tetapi, tatkala seorang sahabat menghadiahkannya biasanya, ia akan bertanya dulu buku apa yang aku lebih suka?. Agak susah jadinya. Beberapa bulan lalu, saat seorang sahabat menanyakan buku apa yang aku mau, aku berfikir. Aku tidak mau seperti ketika dulu, saat ia menghadiahkan buku untukku, dengan bahasa yang sama sekali aku tidak tahu gramatikal bahasanya. Sungguh menyedihkan!. Aku hanya cukup puas, dengan hanya membaca judulnya saja, full arabic language. Pingsan aku!



Ketika ku tanya, alasannya sederhana saja. "Di sini gak ada buku bahasa Indonesia, mbak." Hmmm... Bisa ku terima. Maka, saat ia susah-susah hendak mengirimkan sebuah buku berbahasa Indonesia, yang hanya full foto copian saja aku mengiyakannya. Meskipun setelah sampai bukunya, aku tidakk begitu semangat untuk membacanya. Maklum, fotokopian. Agak susah di bawa-bawa. Di baca sambil tidur pun, repot membacanya (alesan!). Tapi, sekali dua kali membaca bukunya, aku lama-lama menyukainya. Bab demi bab ku nikmati, kalimat demi kalimat ku hayati. Hingga sampai lembar terakhir, buku itu, lusuh tak bermaya. Kesian....


Prie GS, budayawan asal kota Semarang ini siapa yang tidak mengenalinya. Tapi, selama ini aku hanya bisa membaca karya-karya fiksinya saja. Membaca essaynya, sebuah tulisan dengan gaya penilaian hidup satu demi satu, di rumuskan dari hal-hal kecil sampai hal yang paling kecil sekalipun. Yang terkadang, bahkan sering aku sendiri tidak pernah memikirkannya.




Di mulai dengan gambaran pesawat jatuh. Banyak pesawat jatuh belakangan ini. Akan tetapi, banyak benarkah? Tidak, tidak banyak. Kata "banyak" hanya berasal dari persepsi manusia yang keliru, yang menganggap pesawat harus selalu tidak bisa jatuh. Padahal, menurutnya siapa yang berani bermain di ketinggian harus siap jatuh. Jadi, kodrat pesawat adalah "jatuh" sebagaimana hidup harus mengenal kematian (halaman1). Ah, sungguh sentilan yang sangat mengena. Selama ini, aku menganggap biasa-biasa saja ketika aku mendarat dengan selamat setelah menaiki pesawat. Betapa seharusnya aku bersyukur masih selamat. Sungguh kuasa Allah...



Membaca lembar demi lembar buku ini, membuatku tersadar bahwa, banyak sekali hal yang kadang aku anggap spele ketika di renungkan ia menjadi hal yang berarti dan harus di syukuri. Dalam bab, "Ketika Manusia Menjadi massa" Siapapun kita, pejabat, wartawan, mahasiswa, sopir omprengan, ketika telah berkumpul dan menjadi massa akan tergoda oleh jebakan yang sama : kekuasaan. Dan, godaan kekuasaan selalu saja sama wajahnya:keangkuhan.



Ketika manusia memassa, yang muncul tak cuma niat memperjuangkan tujuan, tetapi juga kejengkelan dan dendam. Oleh karena itu, sifat massa sangat sensitif dan sangat berbau kemarahan. Massa dengan kekuasaan memiliki ragam bahasa. Bahasa paling lunak adalah persuasi, kemudian meningkat menjadi agitasi, dan kalau perlu bisa berubah menjadi kekerasan dan anarki (hal 174).



"Bangsaku Selalu Terburu-buru" pada halaman 219. Bagaimana bangsa ini akan menjadi baik jika untuk mematuhi kebaikan yang sederhana saja masih demikian susah. Jembatan penyebrangan sudah tersedia, tetapi masih saja banyak orang nekat menyebrang di bawahnya. Pagar penyekat jalan sudah sedemikian rupa, tetapi orang-orang itu masih saja nekat main lompat. Inilah gambaran watak yang mebuat bangsa ini menjadi terkenal:watak nerabas!



Mereka sunguh bukan orang-orang primitif. Bukan orang-orang desa yang selama ini di asumsikan sebagai orang bodoh dan susah di atur. Mereka adalah orang-orang kota yang apapun status sosial mereka, mulai senang membaca dan nonton televisi. jadi, ini bukan soal pendidikan, soal kepintaran, soal kepintaran, dan kebodohan. Akan tetapi, soal mental dan kelakuan.



Aku lebih tergelitik saat membaca bab "Khotbah Di Sekitar Kita" gambaran yang sangat rill, betapa banyaknya khotbah di adakan. tapi, kejahatan masih di mana-mana, penindasan kepada siapa saja. Pembukaan yang cukup unik ketika sebuah soalan di ajukan. "Kita tidak tahu persis, apakah kita jenis masyarakat pengkhotbah, pendengar khotbah, atau sekedar penyelenggara khotbah?"



Jadi kefikiran pertanyaanku beberapa hari yang lalu. Betapa di setiap khotbah, selalu terselit kalimat Ittakullah (bertakwalah kepada Allah) dan kalimat, yaa ayyuhaladzina aamanuu (Hai orang-orang yang beriman). Tapi, terkadang khotbah di dengar sambil lalu saja tidak sedikit pendengarnya tidur begitu saja. (Jadi, kalau aku tarawih deket rumah setelah rakaat ke 4, ada tadzkirah lumayan panjang, seringnya aku atau terkadang orang di sebelah kanan kiriku, juga depan belakangku pada tertidur). Renung-renungkan...

3 Reactions to this post

Add Comment
  1. anazkia said... October 28, 2011 at 9:42 AM

    Copasun dari tulisan lama. Untuk stock postingan mula-mula :D

  2. aditstorsi said... November 3, 2011 at 6:58 PM

    Saya jadi tertarik membaca buku ini. Ya, saya suka topik-topik sosial berbumbu satire. Terima kasih ber-resensi. :)

  3. Masbro said... November 25, 2011 at 5:56 PM

    Cara Mbak Anaz mengenalkan buku ini, itu yang saya suka.

Post a Comment